Sabtu, 11 Mei 2013

EKSISTENSIAL HUMANISTIK


MAKALAH
  EKSISTENSIAL HUMANISTIK
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/7/7f/Logo_UPS.jpg 
DisusunsebagaisyaratmelengkapitugasmatakuliahModel-model Konseling 1
NamaAnggota :
1.      FriskaRahma A.                      (1111500101)
2.      TitinMukminatin                     (1111500153)
3.      EkaAlendah N.                       (1111500182)
4.      LitaDesyanaFasin                   (1111500205)
5.      Toto Riyanto                           (1111500226)
Kelas : IV.D
Progdi :BimbingandanKonselin
DosenPengampu :RelaAmalia, 
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PANCASAKTI TEGAL
2012/2013 
KATA PENGANTAR

Pujisyukur kami panjatkankehadirat Allah SWT yang telahmelimpahkanhidayah, taufik,daninayah-Nyakepadakitasemua, sehingga kami bisamenjalankankehidupaninisesuaidenganridho-Nya. Syukuralhamdulilah kami dapatmenyelesaikanmakalahtentangEksistensialHumanistikdenganlancar.Makalahinidibuatgunamemenuhitugasmatakuliah Model-model Konseling 1.
Dalampenyusunanmakalahini, tentunyakamimendapatbimbingan, arahandan saran dariberbagaipihak.Olehkarenaitupadakesempataninikamiinginmengucapkanterimakasihkepada :
1.    Ayah danbundatercinta yang telahmemberisemangatsehinggapenyusundapatmenyelesaikanmakalahini.
2.    IbuRelaAmaliaselakudosenpembimbing.
3.    Teman–teman di kampusUniversitasPancasaktiTegalterimakasihatas saran dandiskusinya.
Makalahinimasihjauhdarisempurna, olehkarenaitukamimengharapkankritikdan saran yang bersifatmembangun demi kesempurnaanmakalahini.Semogamakalahinibisamemberikanmanfaatterutamabagipenulisdanbagipembacapadaumumnya

Tegal, 8 April 2013
Penyusun 
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL……………………………………………………………………i
KATA PENGANTAR………………………………………………………………….ii
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………...iii
BAB I. PENDAHULUAN
A.    LatarBelakang…………………………………………………………………..1
B.     RumusanMasalah……………………………………………………………….1
C.     TujuanPenulisan………………………………………………………………...2 
BAB II. PEMBAHASAN
A.    KonsepDasar........................................................................................................3
B.     HakekatManusia..................................................................................................4
C.     Hakekat Konseling...............................................................................................5
D.    Tujuan Konseling.................................................................................................6
E.     Karakteristik.........................................................................................................6
F.      Peran dan Fungsi Konselor..................................................................................7
G.    Hubungan Konselor dengan Klien.......................................................................7
H.    Teknik Konseling.................................................................................................8
I.       Tahap Konseling..................................................................................................9
J.       Kelebihan & Keterbatasan.................................................................................10 
BAB III. PENUTUP
A.    Kesimpulan………………………………………………………………….....11
B.     Saran……………………………………………………………………….…..11 
DAFTAR PUSTAK
BAB IV
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Terapi eksistensial berpijak pada premis bahwa manusia tidak bisa melarikan diri dari kebebasan dan bahwa kebebasan dan tanggung jawab itu saling berkaitan.Dalam terapeutiknya, pendekatan eksistensial humanistic memusatkan perhatian pada asumsi-asumsi filosofis yang melandasi terapi.Pendekatan eksistensial humanistic menyajikan suatu landasan filosofis bagi orang-orang dalam hubungan dengan sesamanya yang menjadi ciri khas, kebutuhan yang unik dan menjadi tujuan konselingnya, dan yang melalui implikasi-implikasi bagi usaha membantu individu dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan dasar yang menyangkut keberadaan manusia.Pada dasarnya terapi eksistensial memiliki tujuan untuk meluaskan kesadaran diri klien, dan karenanya meningkatkan kesanggupan pilihannya, yakni bebas dan bertanggung jawab atas arah hidupnya.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana konsep dasar eksistensial humanistik?
2.      Bagaimana hakekat manusia dalam eksistensial humanistik?
3.      Bagaimana hakekat konselingnya?
4.      Apa tujuan konseling eksistensial humanistik?
5.      Apa karakteristik eksistensial humanistik?
6.      Apa peran dan fungsi konselor dalam eksistensial humanistik?
7.      Bagaiman hubungan konselor dengan klien?
8.      Apa saja teknik konseling eksistensial humanistik?
9.      Bagaimana tahap konseling?
10.  Apa kelebihan dan keterbatasan eksistensial humanistik?
C.     Tujuan Penulisan
1.      Mengetahui konsep dasar eksistensial humanistik.
2.      Mengetahui hakekat manusiadalam eksistensial humanistik.
3.      Mengetahui hakekat konselingdalam eksistensial humanistik.
4.      Mengetahui tujuan konselingdalam eksistensial humanistik.
5.      Mengetahui karakteristik eksistensial humanistic.
6.      Mengetahui peran dan fungsi konselordalam eksistensial humanistik.
7.      Mengetahui hubungan konselor dengan kliendalam eksistensial humanistik.
8.      Mengetahui teknik konseling eksistensial humanistik.
9.      Mengetahui tahap konselingeksistensial humanistik.
10.  Mengetahui kelebihan dan keterbatasan eksistensial humanistik.
  
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Konsep Dasar 
Psikologi eksistensial humanistic berfokus pada kondisi manusia. Pendekatan ini terutama adalah suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia alih-alih suatu system teknik-teknik  yang digunakan untuk mempengaruhi klien. Pendekatan terapi eksistensial bukan suatu pendekatan terapi tunggal, melainkan suatu pendekatan yang mencakup terapi-terapi yang berlainan yang kesemuanya berlandaskan konsep-konsep dan asumsi-asumsi tentang manusia. Menurut Gerald Corey, (1988:54-55) ada beberapa konsep utama dari pendekatan eksistensial yaitu :
1.    Kesadaran diri
Manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri, suatu kesanggupan yang unik dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berpikir dan memutuskan. Semakin kuat kesadaran diri itu pada seseorang, maka akan semakin besar pula kebebasan yang ada pada orang itu. Kesanggupan untuk memilih alternative-alternatif yakni memutuskan secara bebas di dalam kerangka pembatasnya adalah suatu aspek yang esensial pada manusia.
2.    Kebebasan, tanggung jawab, dan kecemasan
Kesadaran atas kebebasan dan tanggung jawab dapat menimbulkan kecemasan yang menjadi atribut dasar pada manusia.Kecemasan eksistensial juga bisa diakibatkan oleh kesadaran atas keterbatasannya dan atas kemungkinan yang tak terhindarkan untuk mati.Kesadaran atas kematian memiliki arti penting bagi kehidupan individu sekarang, sebab kesadaran tersebut menghadapkan individu pada kenyataan bahwa dia memiliki waktu yang terbatas untuk mengaktualkan potensi-potensinya.
3.    Penciptaan Makna
Manusia itu unik, dalam artian bahwa dia berusaha untuk menemukan tujuan hidup dan menciptakan nilai-nilai yang akan memberikan makna bagi kehidupan. Pada hakikatnya manusia memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan sesamanya dalam suatu cara yang bermakna, sebab manusia adalah makhluk rasional. Kegagalan dalam menciptakan hubungan yang bermakna dapat menimbulkan kondisi-kondisi keterasingan dan kesepian.Manusia juga berusaha untuk mengaktualkan diri yakni mengungkapkan potensi-potensi manusiawinya sampai taraf tertentu.
Konsep dasar menurut Akhmad Sudrajat adalah :
·      Manusia sebagai makhluk hidup yang dapat menentukan sendiri apa yang ia kerjakan dan yang tidak dia kerjakan, dan bebas untuk menjadi apa yang ia inginkan. Setiap orang bertanggung jawab atas segala tindakannya.
·      Manusia tidak pernah statis, ia selalu menjadi sesuatu yang berbeda, oleh karena itu manusia mesti berani menghancurkan pola-pola lama dan mandiri menuju aktualisasi diri
·      Setiap orang memiliki potensi kreatif dan bisa menjadi orang kreatif. Kreatifitas merupakan fungsi universal kemanusiaan yang mengarah pada seluruh bentuk self expression.
                                                     
B.     Hakekat Manusia
Pendekatan humanistik – eksistensial berfokus pada diri manusia. Pendekatan ini mengutamakan suatu sikap yang menekankan pemahaman atas manusia. Pendekatan humanistik eksistensial berusaha mengembalikan pribadi kepada fokus sentral, yakni memberikan gambaran tentang manusia pada tarafnya yang tertinggi. Pendekatan ini berfokus pada sifat dari kondisi manusia yang mencangkup kesanggupan untuk menyadari diri, bebas memilih untuk menentukan nasib sendiri, kebebasan dan tanggung jawab, kecemasan sebagai suatu unsur dasar, pencarian makna yang unik di dalam dunia yang tak bermakna, berada sendiri dan berada dalam hubungan dengan orang lain keterhinggaan dan kematian, dan kecenderungan mengaktualkan diri.
Pendekatan Humanistik eksistensial, di lain pihak, menekankan renungan-renungan filosofi tentang apa artinya menjadi manusia yang utuh. Terapi eksistensial, terutama berpijak pada premis bahwa manusia tidak bisa melarikan diri dari kebebasan dan bahwa kebebasan dan tanggung jawab itu saling berkaitan. Dalam penerapan-penerapan terapeutiknya, pendekatan eksistensial humanistik memusatkan perhatian pada asumsi-asumsi filosofis yang melandasi terapi. Pendekatan eksistensial humanistik menyajikan suatu landasan filosofis bagi orang-orang dalam hubungan dengan sesamanya yang menjadi ciri khas, kebutuhan yang unik dan menjadi tujuan konselingnya, dan yang melalui implikasi-implikasi bagi usaha membantu individu dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan dasar yang menyangkut keberadaan manusia. Pendekatan ini memberikan kontribusi yang besar dalam bidang psikologi, yakni tentang penekanannya terhadap kualitas manusia terhadap manusia yang lain dalam proses teurapeutik. Terapi eksistensial-humanistik menekankan kondisi-kondisi inti manusia dan menekankan kesadaran diri sebelum bertindak. Kesadaran diri berkembang sejak bayi. Perkembangan kepribadian yang normal berlandaskan keunikan masing-masing individu. Determinasi diri dan kecenderungan kearah pertumbuhan adalah gagasan-gagasan sentral. Psikopatologi adalah akibat dari kegagalan dalam mengaktualkan potensi. Pembedaan-pembedaan dibuat antara “rasa bersalah ekstensial” dan “rasa bersalah neurotik” serta antara “kecemasan ekstensial” dan “kecemasan neurotik”. Berfokus pada saat sekarang dan akan menjadi apa seseorang itu, yang berarti memiliki orientasi ke masa depan. Maka dari itu, akan lebih meningkatkan kebebasan konseling dalam mengambil keputusan serta bertanggung jawab dalam setiap tindakan yang di ambilnya.
Sebagai salah contoh dalam perilaku sehari-hari: “narkoba dan free sex.” Dalam masyarakat, jelas narkoba dan free sex itu adalah pelanggaran. Baik pilihan atau tindakan seseorang yang terlibat dalam narkoba dan free sex, itu jelas melanggar norma, moral dan hukum. Tidak ada masyarakat yang melegalkan semua tindakan ini. Namun bagi penganut eksistensialist, bukan “narkoba dan free sex” yang menjadi problemnya, tetapi pilihan seseorang. Pilihan ini akan mendorong lahirnya tindakan seseorang. Jika seseorang menilai “narkoba dan free sex” itu adalah positif (maksudnya: mendatangkan keuntungan bagi dirinya sendiri, membuat manusia melupakan segala problem hidupnya, membuat lapangan pekerjaan, karena banyaknya pengangguran, dsb), maka “narkoba dan free sex” akan dilakukan. Akan tetapi sebaliknya jika hal ini dianggap negatif, maka itu tidak akan dilakukan. Yang jelas, pilihannya menjadi faktor penentu lahirnya tindakan seseorang.
C.     Hakekat Konseling
Hakikat konseling eksistensial-humanistik menekankan renungan filosofi tentang apa artinya menjadi manusia. Eksistensial-humanistik berdasarkan pada asumsi bahwa kita bebas dan bertanggung jawab atas pilihan yang kita ambil dan perbuatan yang kita lakukanYang paling diutamakan dalam konseling eksistensial-humanistik adalah hubunganya dengan klien.Kualitas dari dua orang yang bertatap muka dalam situasi konseling merupakan stimulus terjadinya perubahan yang positif.
D.    Tujuan Konseling
1.      Agar klien mengalami keberadaannya secara otentik dengan menjadi dasar atas
keberadaan dan potensi-potensi serta sadar bahwa ia dapat membuka diri dan
bertindak berdasarkan kemampuannya.
2.      Meluaskan kesadaran diri klien, dan karenanya meningkatkan kesanggupan pilihannya, yakni menjadi bebas dan bertanggung jawab atas arah hidupnya.
3.      Membantu klien agar mampu menghadapi kecemasan sehubungan dengan tindakanmemilih diri, dan menerima kenyataan bahwa dirinya lebih dari sekedar korbankekuatan-kekuatan deterministik diluar dirinya.
E.     Karakteristik
Konseling eksistensialisme berfokus pada situasi kehidupan manusia di alam semesta, yang mencakup; kemampuan kesadaran diri, kebebasan untuk memilih dan menentukan nasib hidupnya sendiri; tanggung jawab pribadi; kecemasan sebagai unsur dasar dalam kehidupan batin; usaha untuk menemukan makna dari kehidupan manusia ; keberadaan dalam komunikasi dengan manusia lain ; kematian; serta kecenderungan dasar untuk mengembangkan dirinya semaksimal mungkin (winkel 453;2007).
Pendekataneksistensial-humanistik percaya pada kehendak bebas, bahwa individu secara sadar atau tidak sadar membuat keberadaan mereka dan, bila diberikan pada keadaan yang tepat, dapat menciptakan kembali keberadaan mereka-dengan kata lain, perubahan. Sebagian besar pendekatan eksistensial-humanistik percaya bahwa ada kecenderungan bawaan bagi individu untuk mengaktualisasikan diri untuk memenuhi potensi mereka jika mereka diberikan lingkungan yang kondusif untuk pertumbuhan (Maslow, 1968, 1970).
Pendekatan eksistensial-humanistik mengambil perspektif fenomenologis ketika mereka menekankan realitas subjektif klien. Selain itu, pendekatan ini tidak menekankan peran bawah sadar sedangkan kesadaran ditekankan. Eksistensial-humanis percaya bahwa kecemasan adalah bagian alami dari hidup maupun pesan tentang keberadaan seseorang.

F.      Peran dan Fungsi Konselor 
Menurut Buhler dan Allen, para ahli psikologi humanistik memiliki orientasi bersama yang mencakup hal-hal berikut :
1.      Mengakui pentingnya pendekatan dari pribadi ke pribadi.
2.      Menyadari peran dari tanggung jawab terapis.
3.      Mengakui sifat timbal balik dari hubungan terapeutik.
4.      Berorientasi pada pertumbuhan.
5.      Menekankan keharusan terapis terlibat dengan klien sebagai suatu pribadi.
6.      Mengakui bahwa putusan dan pilihan akhir terletak ditangan klien.
7.      Memandang terapis sebagai model, dalam arti bahwa terapis dengan gaya hidup dan pandangan humanistiknyatentang manusia secara implisit menunjukkan kepada klien potensi bagi tindakan kreatif dan positif.
8.      Mengakui kebebasan klien untuk mengungkapkan pandangan dan untuk
Mengembangkan tujuan-tujuan dan nilainya sendiri.
9.      Bekerja ke arah mengurangi ketergantungan klien serta meningkatkan kebebasan klien.

G.    Hubungan Konselor dengan Klien 
Hubungan terapeutik sangat penting bagi terapis eksistensional.Penekanan diletakkan pada pertemuan antar manusia dan perjalanan bersama alih-alih pada tehnik-teknik yang mempengaruhi klien.Isi pertemuan terapi adalah pengalaman klien sekarang, bukan “masalah” klien.Hubungan dengan orang lain dalam kehadiran yang otentik difokuskan kepada “disini dan sekarang”.Masa lampau atau masa depan hanya penting bila waktunya berhubungan langsung.
 Yang paling diutamakan oleh konselor eksistensial adalah hubunganya dengan klien.Kualitas dari dua orang yang bertatap muka dalam situasi terapeutik merupakan stimulus terjadinya perubahan yang positif.Konselor percaya bahwa sikap dasar mereka terhadap klien, karakteristik pribadi tentang kejujuran, integritas dan keberanian merupakan hal-hal yang harus ditawarkan.Konseling merupakan perjalanan yang ditempuh konselor dan klien, suatu perjalanan pencarian menyelidiki kedalam dunia seperti yang dilihat dan dirasakan klien.
Konselor berbagi reaksi dengan kliennya disertai kepedulian dan empati yang tidak dibuat-buat sebagai satu cara untuk memantapkan hubungan terapeutik. May dan Yalom (1989) menekankan peranan krusial yang dimainkan oleh kapasitas konselor untuk disana demi klien selama jam terapi yang mencakup hadir secara penuh dan terlibat secara intens dengan kliennya. Sebelum konselor membimbing klien untuk berhubugan dengan orang lain, maka pertama-tama harus secara akrab berhubungan dengan si klien itu (Yalom, 1980).
Inti dari hubungan terapeutik adalah rasa saling menghormati, yang mencakup kepercayaan akan potensi klien untuk secara otentik menangani kesulitan mereka dan akan kemampuan mereka menemukan jalan alternatif akan keberadaan mereka. Sidney Jourad (1971) mendesak konselor untuk mengajak klien mereka benar-benar menunjukkan keotentikan dirinya melalui perilaku yang otentik dan pengungkapan diri.Oleh karena itu konselor mengajak klien untuk tumbuh dengan mencontoh perilaku otentik.Mereka bisa menjadi transparan apabila dianggap cocok untuk diterapkan dalam hubungan itu, dan sifat kemanusiaannya bisa menjadi stimulus untuk diambil potensi riilnya oleh klien.
H.    Teknik Konseling 
Teori humanistik eksistensial tidak memiliki teknik-teknik yang ditentukan secara ketat. Prosedur-prosedur konseling bisa dipungut dari beberapa teori konseling lainnya separti teoriGestalt dan Analisis Transaksional. Tugas konselor disini adalah menyadarkan konseli bahwa ia masih ada di dunia ini dan hidupnya dapat bermakna apabila ia memaknainya. 
Dalam konseling humanistik terdapat  teknik-teknik konseling , yang mana sebelum mengetahui teknik-teknik konseling tersebut terdapat beberapa prinsip kerja teknik humanistik antara lain :
1.    Membina hubungan baik (good rapport).
2.    Membuat klien bisa menerima dirinya dengan segala potensi dan keterbatasannya.
3.    Merangsang kepekaan emosi klien.
4.    Membuat klien bisa mencari solusi permasalahannya sendiri.
5.    Mengembangkan potensi dan emosi positif klien.
6.    Membuat klien menjadi adequate.
I.       Tahap Konseling 
Terdapat beberapa tahap yang dapat dilakukan oleh terapis dalam terapi eksistensial antara lain :
1.      Tahap pendahuluan
Konselor membantu konseli dalam mengidentifikasi dan mengklarifikasi asumsi mereka  tentang  dunia. Konseli  diajak  untuk mendefinisikan  dan menayakan  tentang  cara mereka memandang  dan menjadikan  eksistensi mereka  bisa  diterima.  Mereka  meneliti  nilai  mereka,  keyakinan,  serta asumsi  untuk  menentukan  kesalahannya.  Bagi  banyak  konseli  hal  ini bukan  pekerjaan  yang  mudah,  oleh  karena  itu  awalnya  mereka memaparkan  problema  mereka.  Konselor  disini  mengajarkan  mereka bagaimana caranya untuk bercermin pada eksistensi mereka sendiri dan meneliti peranan mereka dalam hal penciptaan problem mereka dalam hidup.
2.      Pada tahap tengah dari konseling eksistensial
Konseli  didorong  semangatnya  untuk  lebih  dalam  lagi meneliti  sumber dan otoritas dari sistem nilai mereka.  Proses eksplorasi  diri  ini  biasanya membawa  konseli  ke  pemahaman  baru  dan  berapa  restrukturisasi  dari nilai dan  sikap mereka. Konseli mendapat cita rasa yang lebih baik akan jenis  kehidupan  macam  apa  yang  mereka  anggap  pantas.  Mereka mengembangkan  gagasan  yang  jelas  tentang  proses  pemberian  nilai internal mereka.
3.      Tahap terakhir dari Konseling  eksistensial
Berfokus  pada  menolong  konseli  untuk  bisa melaksanakan apa yang  telah mereka pelajari  tentang diri mereka sendiri. Sasaran  terapi  adalah  memungkinkan  konseli  untuk  bisa  mencari  cara mengaplikasikan  nilai  hasil  penelitian  dan  internalisasi  dengan  jalan kongkrit. Biasanya konseli menemukan  jalan mereka untuk menggunakan kekuatan  itu  demi  menjalani  konsistensi  kehidupannya  yang  memiliki tujuan,
J.       Kelebihan & Keterbatasan 
Kelebihan
1.      Teknik ini dapat digunakan bagi klien yang mengalami kekurangan dalam perkembangan dan kepercayaan diri.
2.      Adanya kebebasan klien untuk mengambil keputusan sendiri.
3.      Memanusiakan manusia.
4.      Bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, analisis terhadap fenomena sosial.
5.      Pendekatan terapi eksistensial lebih cocok digunakan pada perkembangan klien seperti masalah karier, kegagalan dalam perkawinan, pengucilan dalam pergaulan ataupun masa transisi dalam perkembangan dari remaja menjadi dewasa

Kelemahannya
1.      Dalam metodologi, bahasa dan konsepnya yang mistikal
2.      Dalam pelaksanaannya tidak memiliki teknik yang tegas.
3.      Terlalu percaya pada kemampuan klien dalam mengatasi masalahnya (keputusan ditentukan oleh klien sendiri)
4.      Memakan waktu lama, 
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Konseling eksistensial humanistic ini berfoku
s pada sifat dari kondisi manusia yang mencangkup kesanggupan untuk menyadari diri, bebas memilih untuk menentukan nasib sendiri, kebebasan dan tanggung jawab, kecemasan sebagai suatu unsur dasar, pencarian makna yang unik di dalam dunia yang tak bermakna, berada sendiri dan berada dalam hubungan dengan orang lain keterhinggaan dan kematian, dan kecenderungan mengaktualkan diri.
B.     Saran
Memiliki kemampuan dalam konseling humanistik merupakan hal yang penting,dapat mengarahkan hidup kita ke masa depan yang lebih baik. Untuk itu kita harus mengasah kemampuan (kreatifitas) kita secara baik berdasarkan pengalaman -pengalaman pribadi kita di lingkungan.Kita dapat memahami dan mengetahui hal-hal atau masalah klien kita nantinya.
DAFTAR PUSTAKA

http://dodydanpsikologi.blogspot.com/2012/01/pendekatan-eksistensial-humanistik.html 
http://www.psikologizone.com/konseling-terapi-pendekatan-eksistensial/06511676
http://syarifah-mimien.blogspot.com/2005/03/terapi-eksistensial-humanistik.htm
http://akhmadsudrajat.woordpress.com 
http://binham.wordpress.com/2012/06/18/pendekatan-eksistensial-humanistik/
http://kandidatkonselor.blogspot.com/2013/01/teori-dan-pendekatan-konseling_31.html
Corey, G. 1986. Theory and practice of counseling and psychotherapy. Monterey, California: Brooks/Cole Publishing Company
George, R.L & Christiani, T.S. 1990. Counseling: theory and practice. Boston: Allyn and Bacon

11 komentar: